Benarkah Napoleon Bonaparte Masuk Islam?

NapoleonNapoleon Bonaparte (sumber: headforart.com)

“Religion is excellent stuff for keeping common people quiet. Religion is what keeps the poor from murdering the rich” - Napoleon Bonaparte

Salah satu sumber yang seringkali dikutip sebagai argumentasi ke-Islam-an Napoleon adalah sebuah buku yang ditulis oleh Christian Cherfils yang berjudul Bonaparte Et L’Islam. Buku tersebut adalah sebuah kronik yang ditulis pada tahun 1914 dalam bahasa Perancis dan baru diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh James Gibb-Stuart pada tahun 1999. Cherfils mengklaim bahwa bukunya tersebut diambil dari dokumen-dokumen berbahasa Perancis dan Arab. Dalam buku tersebut, Cherfils mengutip pernyataan Napoleon -yang juga sering dikutip oleh mereka yang percaya bahwa Napoleon- masuk Islam,

I hope that time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all countries and establish a uniform regime based on the principles of Qur’an which alone can lead men to happiness. (Cherfils, 1999: 105).

Tidak hanya muncul di berbagai forum dan blog, media massa Islam seperti media.isnet.org, eramuslim, dakwatuna, dan Republika juga ikut menulis artikel tentang keterkaitan antara Napoleon dengan Islam. Bahkan, kontroversi ke-Islam-an Napoleon tersebut dibukukan oleh penulis Indonesia yang bernama R.M. Irwan dengan judul Rahasia yang Tersimpan: Napoleon Bonaparte Ternyata Muslim. Melalui buku yang diterbitkan oleh Titik Media pada November 2012 tersebut, tidak hanya meyakini bahwa Napoleon adalah seorang Muslim, Irwan bahkan mengklaim lebih jauh dengan mengatakan bahwa Napoleon merupakan keturunan Sultan Hasanudin dari Makassar. Meskipun begitu, pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas tentang klaim Irwan yang terakhir.

Selain tulisan Cherfils, tulisan yang mendukung ke-Islam-an Napoleo Bonaparte adalah buku Satanic Voices ­Ancient and Modern- yang ditulis oleh David Musa Pidcock. Tulisan ini sebenarnya merupakan balasan terhadap novel Satanic Verses karya Salman Rushdie yang mendapatkan fatwa hukuman mati dari Imam Ali Khomeini. Pidcock juga menuliskan argumennya tersebut dalam artikel di surat kabar di Perancis, Le Moniteur, yang menegaskan ke-Islam-an Napoleon terjadi pada tahun 1798. Pidcock sendiri adalah seorang muallaf kelahiran Inggris yang menjadi salah satu pendiri sekaligus ketua umum Partai Islam Britania Raya saat ini. Ia juga salah seorang yang terlibat dalam proses penerjemahan buku Cherfils dari bahasa Perancis ke bahasa Inggris.

Sebelum masuk pada inti dari tulisan ini, saya berpendapat bahwa terminologi “Muslim” itu sendiri perlu dipertegas. Secara harfiah, kata Muslim berasal dari bahasa Arab yang berarti “orang yang berserah diri”. (Lihat QS. Ali Imran: 32). Inti dari seorang Muslim adalah tauhid yang terangkum dengan singkat, padat, dan jelas dalam konsep syahadat: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Konsep ini kemudian dijabarkan secara lebih luas dalam konsep rukun iman dalam hal kepercayaan dan diaktualisasikan dalam rukun Islam dalam hal ritual. Dengan kata lain, seorang Muslim adalah orang yang tidak hanya percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad ialah utusan-Nya, tetapi juga menjalani ritual-ritual, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji bila mampu.

Siapa Napoleon Bonaparte?

Sebelum mulai membahas tentang isu masuk Islamnya Bonaparte, saya akan menguraikan secara singkat latar belakang beliau. Napoleon lahir di Ajaccio pada tanggal 15 Agustus 1769 dari keluarga bangsawan Italia. Dia adalah pemimpin Perancis pertama pasca Revolusi Perancis yang menjatuhkan raja Louis XVI yang zalim -yang kematiannya berujung di tiang gantung-. Potensinya di bidang militer mulai terlihat saat usianya yang baru 23 tahun sudah menduduki posisi letnan-kolonel di batalion Corsican.

Salah satu warisan penting Napoleon selama memimpin Perancis adalah Napoleon Code, yang masih berpengaruh hingga saat ini terhadap hukum sipil di berbagai negara di dunia. Selain dikenal sebagai pemimpin politik, nama Napoleon selalu diingat sebagai salah satu pemimpin yang brilian di bidang militer. Salah satu perang besar yang dijalani olehnya adalah ketika ia berhasil memenangkan Napoleonic Wars antara tahun 1803-1815 ketika wilayah kekuasaan Perancis diserang oleh kekuatan gabungan antara Britania Raya, Prussia, Spanyol, Sardinia, dan lain-lain. Namanya juga pantas disejajarkan dengan para pemimpin militer lain seperti Alexander Agung, Umar bin Al-Khattab, atau Julius Caesar. Sepanjang hidupnya, ia berhasil menguasai sebagian besar wilayah Eropa. Tidak hanya itu, ia juga memperluas wilayah kekuasaannya dengan melakukan invasi hingga ke Mesir dan Syria.

Kekuatan militer Perancis di bawah Napoleon mulai pudar pasca kekalahan Peninsula War melawan kekuatan gabungan Britania Raya, Spanyol, dan Portugal untuk memperebutkan kontrol di wilayah Semenanjung Iberia dan kegagalan pasukannya menginvasi wilayah Rusia. Karena dianggap sebagai hambatan utama bagi perdamaian di Eropa, Napoleon lalu diasingkan di Elba. Ia sendiri wafat pada tahun 1821 dan kini dimakamkan di Les Invalides, Paris. Penyebab kematiannya yang misterius masih mengundang perdebatan hingga kini.

Konteks Pernyataan Napoleon?

Salah satu peristiwa penting di era kepemimpinan Napoleon adalah invasi Napoleon ke Mesir yang mengakhiri aliansi Franco-Ottoman yang telah terjalin selama lebih dari 2,5 abad. Aksi militer Napoleon tersebut ditujukan untuk memblokade jalur perdagangan antara Inggris dan wilayah jajahannya, India sekaligus membangun relasi dengan Tipu Sultan, yang menjadi musuh Inggris di India. Menghadapi serangan Perancis, Mesir yang pada saat itu dikuasai oleh kesultanan Utsmani dibantu oleh Inggris. Napoleon memang berhasil menguasai darat Mesir, namun armada lautnya berhasil dihancurkan oleh Inggris di sungai Nil. Berhasil menguasai secara de facto wilayah darat Mesir, Napoleon menghadapi sebuah tantangan baru: “menjinakkan” rakyat Mesir yang tidak setuju dengan pendudukan Perancis. Dalam konteks inilah, Napoleon mengucapkan berbagai pernyataan yang terkesan takjub dengan Islam.

Napoleon-Gérome

Lukisan Jean-Léon Gérome yang berjudul Napoleon and His General Staff (sumber: artrenewal.org)

Salah satu kesalahan yang mendasar dari berbagai argumen yang menyatakan ke-Islam-an Napoleon adalah tidak dijelaskannya konteks kapan, dimana, dan mengapa Napoleon mengucapkan kalimat tersebut. Mesir adalah wilayah yang didominasi oleh orang-orang Muslim. Ketika baru saja berhasil menaklukkan Malta dan berencana menaklukkan Mesir yang mana kota Alexandria sebagai target pertamanya, Napoleon menginstruksikan kepada para pasukannya,

The peoples we will be living alongside are Muslims; their first article of faith is “There is no other god but God, and Mahomet is his prophet”. Do not contradict them; treat them as you treated the Jews, the Italians; respect their muftis and their imams, as you respected their rabbis and bishops. Have the same tolerance for the ceremonies prescribed by the Qur’an, for their mosques, as you had for the convents, for the synagogues, for the religion of Moses and that of Jesus Christ. The Roman legions used to protect all religions. You will here find different customs to those of Europe, you must get accustomed to them.”

Kedatangan Napoleon ke Mesir bukan seperti seorang petualang yang datang ke tempat asing yang takjub memandang Islam sebagai sesuatu yang baru dan asing. Intelektual asal Palestina, Edward Said dalam bukunya Orientalism, mengatakan bahwa Napoleon sudah mengenal dengan baik dunia Timur (termasuk Mesir) sejak masa remaja. Ia seringkali membaca manuskrip karangan Marigny, Histoire des Arabes, yang berisi kenangan dan kemegahan Mesir-nya Alexander Agung. Dengan demikian, kaisar Perancis itu berambisi menjadi “Alexander Agung Baru” dengan menaklukkan Mesir. (Said, 2010: 119).

Mendapat penolakan keras dari rakyat Mesir, Napoleon mulai menggunakan retorika Islam sebagai bagian dari strateginya memerintah rakyat Mesir. Ia mengklaim sebagai orang yang berjasa membebaskan rakyat Mesir dari penindasan kesultanan Utsmani dan Mamluk. Pernyataan Napoleon, “I hope that time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all countries and establish a uniform regime based on the principles of Qur’an which alone can lead men to happiness, merupakan surat Napoleon kepada Syeikh terkemuka di Alexandria, Syeikh Al-Masiri. Syeikh Al-Masiri adalah salah satu ulama yang kooperatif dengan pendudukan Perancis di Alexandria. Dalam surat tersebut, Napoleon menawarkan pertemuan dengan Syeikh Al-Masiri untuk membicarakan kemungkinan penerapan syariat Islam di Mesir sesuai dengan interpretasi para ulama, bukan syariat Islam yang selama ini diinterpretasikan oleh kesultanan Utsmani. (Juan Cole, 2007: 130).

Untuk menaklukkan hati rakyat Mesir, Napoleon juga mengikuti berbagai tradisi-tradisi yang bernuansa Islam. Seperti yang disebutkan oleh Juan Cole dalam bukunya Napoleon’s Egypt: Invading Middle East, Napoleon bahkan membiayai festival Maulid Nabi Muhammad saw (hal. 123). Napoleon memang berhasil mengambil hati sebagian besar rakyat Mesir, sehingga mereka memanggil Napoleon dengan sebutan Ali Bonaparte, yang merujuk pada sepupu Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib. Pimpinan jenderal militer yang memimpin satu dari lima divisi ekspedisi ke Mesir, Jacques François Menou, bahkan masuk Islam pada tahun 1799 sebagai syarat menikahi salah satu janda kaya di Mesir, Zubaidah, dan menggunakan nama “Abdullah” (yang berarti hamba Allah) di depan namanya. (Juan Cole, 2007: 135).

Namun demikian, hal ini bukan berarti bahwa seluruh rakyat Mesir setuju dengan pendudukan Perancis di Mesir. Saat berkunjung ke Kairo, sekelompok orang mengadakan penyerangan. Salah satu potongan manifesto gerakan pemberontakan yang disebarluaskan kepada rakyat Mesir tersebut berbunyi: “The French people are a nation of stubborn infidels and unbridled rascals…. They look upon the Quran, the Old Testament and the New Testament as fables…” Jenderal militer Perancis lainnya, Dominique Martin Dupuy, yang terlibat dalam ekspedisi Mesir bersama Napoleon juga mengakui, “We are fooling Egyptians with our pretended interest for their religion, neither Bonaparte nor we believe in this religion more than we did in Pius the Defunct’s one.” Sekretaris pribadi Napoleon, Louis Antoine Fauvelet de Bourienne, juga mengutarakan hal yang serupa. Ia mengatakan,

Bonaparte’s principle was… to look upon religions as the work of men, but to respect them everywhere as a powerful engine of government… If Bonaparte spoke as a Mussulman (Muslim), it was merely in his character of a military and political chief in a Mussulman country. To do so was essential to his success, to the safety of his army, and… to his glory… In India he would have been for Ali, at Thibet for the Dalai-lama, and in China for Confucius.”

Edward Said berargumen bahwa Napoleon benar-benar mengikuti saran mentah-mentah yang tertuang dalam karya-karya Volney -Voyage en Egypte en Syrie dan Considerations- agar menggunakan cara-cara manipulatif untuk menguasai Mesir. Napoleon mengklaim sebagai saudara seiman (itulah yang dilakukannya saat pidato tanggal 2 Juli 1798 di hadapan rakyat Alexandria) dan memanfaatkan kebencian rakyat Mesir kepada kesultanan Mamluk. (Said, 2010: 119). Sikap pragmatisme Napoleon tersebut juga dapat ditelusuri lewat pernyataannya yang terkenal,

“It is by making myself Catholic that I brought peace to Brittany and Vendée. It is by making myself Italian that I won minds in Italy. It is by making myself a Moslem that I established myself in Egypt. If I governed a nation of Jews, I should reestablish the Temple of Solomon.”

Oleh karena itu, Napoleon tidak hanya pragmatis dalam memandang agama, ia juga tidak mendeklarasikan dirinya memeluk Islam. Ulama Al-Azhar, Syeikh Abdullah Al-Sharqawi memang sempat menawarkan kepada Napoleon -lewat panglima jenderalnya- untuk pindah ke agama Islam agar mendapatkan legitimasi sakral atas umat Muslim. Akan tetapi, pada akhirnya, Napoleon tidak pernah masuk Islam, tidak pernah ke masjid, dan tidak pernah sholat dan berdoa seperti Muslim pada umumnya. Kenyataannya, seperti yang dikemukakan oleh de Bourienne, menjelang kematiannya, ia menjalani salah satu proses sakramen oleh uskup sebagai orang Katolik.

les-invalides-and-gardens-eI-cole-militaire-paris-i080150718Les Invalides, Paris, Perancis. Disinilah tempat peristirahatan terakhir Napoleon Bonaparte.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s